Seputar Tekno

Mengenal Layar Bezel-less beserta Kelebihan & Kekurangannya

Ponsel genggam semakin berkembang pesat setiap tahunnya. Berawal dari alat komunikasi biasa yang hanya bisa mengoperasikan hal-hal sederhana seperti SMS, telepon, kalkulator dan sebagainya, hingga menjadi smartphone yang bisa melakukan aktivitas canggih seperti bermain game virtual. Berbicara mengenai smartphone masa kini, pasti Anda tahu desain yang sedang trend yaitu layar bezel-less atau bingkai tipis dengan dilengkapi aspek ratio 18:9. Langsung saja, kami akan mengajak Sobat sekalian untuk mengenal layar bezel-less beserta kelebihan dan kekurangannya yang mungkin akan menambah wawasan dibidang teknologi.

Di kesempatan sebelumnya, Anda sudah mengetahui 5 smartphone bezel-less terbaik 2017, dimana kelima smartphone tersebut menjadi perangkat flagship masing-masing vendor. Selain memiliki bezel super tipis, spesifikasi di dalamnya pun tidak bisa diremehkan. Namun terlepas dari itu, apakah layar bezel-less memang sangat diperlukan sebagai standar smartphone kekinian?

Layar Bezel-less
Dengan banyaknya pengguna yang mengonsumi media atau bermain game, vendor smarpthone berlomba-lomba untuk menghadirkan smartphone yang jauh lebih besar daripada keluaran beberapa tahun lalu. Maka dari itu, sebuah layar yang lebih lebar pun akan disematkan pada perangkat ponsel genggam.

Seiring berjalannya waktu, tren smartphone pun kembali berinovasi. Bukan hanya layar lebar, namun bezel atau bingkai di sekitaran layar menjadi makin tipis. Tak bisa dipungkiri jika tren smartphone yang sangat populer saat ini ialah semakin menghilangnya bezel. Hal itu pun diimbangi dengan tingginya rasio layar ke bodi, atau bahkan berubahnya rasio menjadi lebih panjang.

Layar bezel-less sering diartikan sebagai layar tanpa bezel atau layar dengan bingkai super tipis sehingga terlihat bagaikan tanpa tepi samping. Dengan desain tepi layar yang nyaris tidak ada tersebut, membuat siapa saja yang mengerti teknologi pasti tahu jika smartphone tersebut berada dikelas premium alias mahal. Adapun beberapa smartphone yang telah menggunakan desain layar bezel-less yaitu Samsung Galaxy S8 atau Galaxy Note 8, Elephone S Series, Xiaomi Mi Mix, iPhone X, dan smartphone flagship lainnya.

Namun dibalik keindahan dengan layar minim bingkai, terdapat permasalahan lainnya yang bisa mempengaruhi daya tahan smartphone itu sendiri. Lantas apa sajakah itu? Mari simak penjelasannya di bawah ini.

Ketahanan
Salah satu faktor terbesar yang dimiliki oleh smartphone bezel-less ialah ketahanan pada bodinya. Secara umum, smartphone memiliki bezel yang lebih tebal di setiap sisi layar. Tapi, dengan mengecilnya ukuran tersebut, maka layar smartphone akan rentan rusak saat terjatuh atau sekedar membentur sesuatu yang keras.

Tentunya sebuah smartphone yang memiliki bezel tipis rawan di bagian layarnya karena bezel yang digunakan tipis dan sangat dekat dengan layar. Jika saat jatuh pada permukaan yang keras tanpa menggunakan hardcase atau bumpercase, maka benturan akan langsung mengenai bezel dan tidak jarang menyebar ke bagian tengah layar.

Artikel menarik:  Apa itu Bloatware?

Letak Hardware
Umumnya, bezel pada smartphone mempunyai sebuah fungsi rahasia. Apakah mungkin menjadi tempat fingerprint scanner atau speaker di bagian depan. Kedua hal ini terlihat hampir mustahil untuk diaplikasikan pada ponsel dengan layar bezel-less. Contohnya saja Samsung yang memindahkan sensor sidik jari di belakang dengan posisi yang cukup ‘aneh’. Hal ini dikarenakan tidak ada ruang untuk menempatkan fingerprint scanner di depan seperti biasanya.

Meskipun speaker di bawah tidak menjadi masalah yang terlalu besar, namun memiliki speaker di depan yang menghadap langsung ke wajah akan terdengar lebih jelas dan baik saat mengonsumsi media karena tidak akan terhalangi oleh tangan. Bahkan beberapa vendor terpaksa mengubah posisi kamera, misalnya saja Essential Phone dan Xiaomi Mi Mix yang memposisikan kamera di tengah dan bawah layar.

Umumnya Menggunakan Bahan Kaca atau Keramik
Untuk mengejar keindahan dan ketipisan smartphone bezel-less (tanpa bezel), produsen smartphone lebih memilih menggunakan bahan kaca atau keramik di seluruh bodi smartphone. Tapi kalau dilihat lagi, bahan ini licin saat dipegang dan sangat rentan terkena benturan langsung, terutama di sudut smartphone.

Aspek Rasio yang justru Memicu Masalah Baru
Kelemahan smartphone bezel-less lainnya adalah aspek rasio baru yang lebih panjang. Masalahnya adalah kebanyakan aplikasi smartphone sudah dioptimalkan untuk rasio aspek 16: 9 yang telah ada sebelumnya. Namun dengan terciptanya rasio aspek baru 18,5: 9, misalnya Samsung Galaxy S8 yang merupakan smartphone bezel-less. Ada beberapa aplikasi dalam mode full screen yang sedikit terpotong karena perbedaan aspek rasio.

Sebenarnya ini hanya masalah waktu saja sampai pengembang memperbarui aplikasinya untuk rasio aspek ponsel cerdas tertentu. Masalah ini juga bisa dipecahkan dengan mengubah mode layar menjadi mode standar dan mengorbankan mode full screen.

Selain itu, sebagian besar konten di YouTube, rasio aspeknya adalah 16: 9. Berbagai alat untuk memotret, seperti kamera video, kamera DSLR, atau bahkan kamera smartphone sendiri, dirancang dengan rasio aspek ini. Namun sebagian besar konten Netflix dan Amazon Prime mengklaim telah menggunakan aspek rasio untuk smartphone layar penuh.