Ketika Berniaga pun “Dicaplok” OLX

Satu tahun lalu, mungkin kita bisa melihat persaingan cukup ketat antara Tokobagus dan Berniaga dalam hal mencari pamor pasar melalui iklan-iklan mereka yang cukup masif di media konvensional. Waktu itu, Tokobagus merupakan pemenang dari sisi jumlah pengguna dan branding marketing yang mereka lakukan. Lantas pada Maret 2014 lalu, OLX yang sudah hadir di lebih 106 negara dan tersedia lebih dari 40 bahasa berbeda mengambil alih secara keseluruhan Tokobagus, lalu mengubah namanya menjadi OLX.co.id.

Ketika Berniaga pun Dicaplok OLX

Persaingan duo raksasa ini pun menjadi Olx dan Berniaga yang saling ‘bunuh’. Kematian merek Tokobagus membuat Berniaga mampu merangsek keatas untuk memenangkan pengguna dalam negri. Hmmm, tapi kini Berniaga pun akan ‘dimatikan’ kembali melalui kesepakatan JV (joint venture) antara Naspers dengan Schibted Media Group, Telenor Group dan Singapore Press Holding yang situs jual beli OLX dan Berniaga menjadi OLX.co.id saja.

Dari nama yang dipilih kita tentu tahu siapa yang mencaplok siapa meski kedua pihak saat ini masih menutup rapat mulutnya ketika ditanyakan. Dari kesepakatan tersebut, secara perlahan dan pasti seluruh pengguna Berniaga akan dialihkan ke platform OLX. Proses migrasi ini diprediksi akan selesai pada awal 2015 mendatang. Tentu saja, gabungan kekuatan OLX dan Berniaga bisa menjadi yang terbesar di industri e commerce Indonesia.

Artikel berhubungan:  Xperia L1, Smartphone Android Murah dari Sony

Aksi Caplok-Caplok
Dalam dunia e-commerce, aksi caplok-mencaplok memang sudah biasa. Perusahaan yang besar senantiasa akan selalu mencaplok perusahaan yang lebih kecil, terutama yang dianggap menjadi pesaing atau untuk menambahkan kekayaan yang dimiliki oleh yang besar agar semakin raksasa. Lihat saja kisah Nokia yang dibeli Microsoft lalu dibunuh total.

Hampir separuh dari aksi akuisisi ini biasanya berakhir pada kisah tragis matinya merek yang dicaplok. Di Indonesia, hal tersebut pernah terjadi pada Koprol yang dibeli Yahoo! dengan harga fantastis kemudian ‘mati sendiri’ karena diurus dengan setengah hati.

Dari kisah terakhir ini, yakni duo nama Tokobagus & Berniaga merupakan contoh matinya ‘brand’ lokal akibat keganasan ekspansi asing yang masuk untuk menguasai aset dengan dana tanpa batas.

Seru sih seru. Tapi brand lokal tak harus hilang, bukan?

Semoga saja di masa depan para pelaku industri e-commerce tanah air lebih mampu menaikkan posisi tawar kepada para investor!