Berita

Dunia Diserang Ransomware WannaCry

Berita paling hangat sepekan ini adalah mengenai serangan Ransomware bernama WannaCrypt atau WannaCry. Ancaman satu ini di anggap sangat berbahaya karena menyandera data-data penting dari beberapa sektor publik, misalnya perpustakaan atau data pasien dirumah sakit. Memang kebanyakan korban dari WannaCry adalah rumah sakit, bahkan malware itu telah menyerang lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia.

Dunia Diserang Ransomware WannaCry

Menurut Eko Widianto selaku Managing Director Bintang Anugrah Kencana mengatakan alasan kenapa Indonesia turut menjadi sasaran adalah karena masih rendahnya edukasi sehingga ada potensi besar korban mudah terpancing ransomware. Seperti yang telah diketahui, modus WannaCry hanyalah ingin mencuri data untuk mengancam korban supaya memberikan sejumlah uang.

Sampai detik ini, pencipta ramsomware WannaCry sendiri sangat sulit dilacak dan ditemukan. Cara yang paling penting ditempuh adalah dengan hanya melakukan tindakan pencegahan. Pengguna internet yang aktif harus menggunakan software yang asli dan terupdate karena WannaCry hanya menyerang komputer berbasis Windows XP. Selain itu, pilihlah anti virus yang mengusung teknologi predict, prevent, detect dan respond.

Serangan masif yang disebabkan oleh ransomware WannaCry diprediksi telah menginfeksi sekitar 200 ribu komputer di hampir 150 negara di dunia. Atas kejadian ini, kabarnya Microsoft turut meminta pertanggungjawaban dari Pemerintah Amerika Serikat. Raksasa teknologi tersebut mengatakan bahwa pemerintah AS khususnya Badan Keamanan Nasional (NSA) ikut turut bertanggung jawab atas tersebarnya kasus WannaCry.

Artikel menarik:  Qualcomm Snapdragon 845 Rilis, Chipset Mobile Terbaik Saat ini!

Bukan tanpa alasan Microsoft menuntut NSA karena ransomware tersebut dibuat dari alat atau tool ekspolitasi yang bernama “Eternal Blue” besutan Badan Keamanan Nasional AS yang diretas oleh kelompok Shadowbrokers pada tanggal 14 April 2017. Alih-alih memberitahu Microsoft, NSA justru menyimpan rapat-rapat informasi tentang Eternal Blue untuk kepentingannya sendiri, sampai akhirnya dicuri oleh kelompok hacker.

Alat ini memudahkan penggunanya untuk mengambil alih kendali atau mengontrol perangkat Windows lawas yang sistemnya tidak diperbarui. Brad Smith selaku Chief Legal Officer Microsoft mengecam tindakan NSA serta pemerintah AS telah menciptakan senjata cyber yang membahayakan banyak pihak. Untung saja, Microsoft dapat merespon cepat dengan mengeluarkan patch untuk pengguna Windows supaya tidak menjadi korban ransomware WannaCry.

Mengantisipasi kejahatan cyber tersebut, sejumlah pakar IT telah mampu menekan jumlah korban peretasan di seluruh dunia, tetapi tidak menutup kemungkinan adanya serangan gelombang kedua. Sejumlah pihak pun diminta untuk selalu waspada dan melakukan berbagai upaya antisipatif supaya tidak terulangnya kejadian serupa.