Berita

Berkolaborasi, XL dan Indosat Bentuk Joint Venture

Kabar terkini datang dari dua perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia. Keakraban di antara keduanya semakin terjalin dengan bersatunya mereka dalam sebuah usaha bersama. Pada tanggal 09 Mei 2016 lalu, telah dilakukan pembentukan perusahaan patungan atau joint venture antara PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dan PT Indosat Tbk. (ISAT) yang diberi nama PT One Indonesia Synergy (OIS). Informasi tersebut diperoleh dari laporan keterbukaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dipublikasikan hari Selasa (10/05/2016).

Berkolaborasi, XL dan Indosat Bentuk Joint Venture

Sebagaimana dijelaskan oleh CEO XL Axiata, Dian Siswarini, pembentukan joint venture ini bertujuan untuk meningkatkan kerja sama di sektor jaringan telekomunikasi. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan dapat memberikan jasa konsultasi untuk pengembangan jaringan di masa-masa mendatang. Jaringan yang dimaksud tidak terbatas pada koneksi 4G, akan tetapi mencakup koneksi lain seperti 2G dan 3G. Setiap kemungkinan dan potensi kolaborasi akan dijajaki, termasuk dalam usaha RAN sharing.

Sementara itu, CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli, menerangkan bahwa belum ada target finansial yang ditetapkan pasca terjalinnya kerja sama ini. Kedua perusahaan masih sama-sama mengadakan eksplorasi untuk menjajaki berbagai kemungkinan kerja sama telekomunikasi. Yang jelas, salah satu tujuan pembentukan joint venture ini adalah menekan operational expenditure (opex) dan capital expenditure (capex) dari kedua perusahaan. Atau dengan kata lain, melakukan penghematan untuk meningkatkan efisiensi.

Sebelum joint venture ini dibentuk, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, cukup intens memotivasi XL dan Indosat untuk melakukan merger guna mencapai efisiensi di sektor jaringan telekomunikasi. Meski demikian, baik Dian dan Alex menegaskan bahwa joint venture bukanlah merger. Joint venture ini bisa dikatakan sebagai kelanjutan dari beberapa kerja sama yang telah dilakukan oleh XL dan Indosat, seperti network sharing 4G LTE pertama di Indonesia yang beberapa bulan lalu diterapkan di sejumlah kota antara lain Banyumas, Surakarta, Batam, dan Banjarmasin.

Artikel menarik:  Titan V, GPU PC Terkencang dari Nvidia Seharga Rp 40 Juta

Terkait sistem permodalan yang digunakan oleh PT One Indonesia Synergy (OIS), baik XL maupun Indosat sama-sama memiliki saham sebesar 50% dengan masing-masing 1.251 lembar saham dengan nilai sekitar Rp 1 juta per lembar saham. Dengan demikian, nilai nominal keseluruhan saham adalah Rp 1,251 miliar. Modal dasarnya Rp 10,002 miliar dengan modal ditempatkan sebesar Rp 2,502 miliar dan modal disetorkan sebesar Rp 2,502 miliar. Sumber pendanaan tersebut berasal dari kas internal kedua perusahaan.

Pada kuartal pertama tahun 2016, XL Axiata berhasil mencatat laba senilai Rp 169 miliar. Angka ini berbanding terbalik dengan kerugian sebesar Rp 758 miliar pada kuartal pertama tahun 2015. Sedangkan pada periode yang sama, Indosat Ooredoo berhasil membukukan laba senilai Rp 217 miliar dengan kerugian pada periode tahun lalu sebesar Rp 455 miliar.